- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
III. PARADIGMA PMII
(Oleh : Zonni Bahauddin Hilmi)
A.
Landasan Epistimologi Paradigma Pergerakan
Istilah paradigma tergolong kata yang jarang dipakai dalam
percakapan yang kita lakukan setiap harinya. Walaupun demikian, kita tetap
harus memahami makna ataupun arti istilah ini yang sebenarnya. Sehingga saat
istilah tersebut digunakan, kita bisa mengetahui apa makna atau artinya. Secara
umum, istilah ini cenderung merujuk pada dunia pola pikir ataupun teknis penyelesaian
masalah yang dilakukan oleh orang-orang. Istilah yang satu ini pertama kali
diperkenalkan oleh seorang ilmuwan yang bernama Thomas Kuhn melalui buku
ciptaannya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution. (Susanto, 2017)
Thomas Kuhn merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan
istilah ini melalui bukunya yang berjudul The Structure of Scientific
Revolution. Menurutnya, arti dari paradigma sendiri adalah suatu landasan
berpikir, konsep dasar, dan juga landasan berpikir yang dipakai atau dianut
sebagai model ataupun konsep dasar para ilmuwan dalam melakukan studinya. Di
dalam bukunya itu, Kuhn menyebutkan bahwa paradigma adalah temonologi kunci
yang dipakai dalam perkembangan ilmu pengetahuan.(Sonjoruri & Trisakti, 2008)
Robert Friedrichs kali pertama menjelaskan paradigma sebagai pandangan mendasar dari satu disiplin ilmu tentang apa yang semestinya dipelajari “a fundamental image a dicipline has of its subject matter”. Secara umum, paradigma adalah suatu pandangan yang fundamental (mendasar, prinsipil, radikal) tentang sesuatu yang menjadi pokok permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Kemudian, bertolak dari suatu paradigma atau asumsi dasar tertentu seorang yang akan menyelesaikan permasalahan dalam ilmu pengetahuan tersebut membuat rumusan, baik yang menyangkut pokok permasalahannya, metodenya agar dapat diperoleh jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan.(Mukhlishin & Suhendri, 2017)
Paradigma merupakan sesuatu yang vital bagi pergerakan organisasi,
karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan
cara memandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan dan
perilaku organisasi. Disamping itu, dengan paradigma ini pula sebuah organisasi
akan menetukan dan memilih nilai-nilai yang universal dan abstrak menjadi
khusus dan praksis operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah
organisasi dan gaya berpikir seseorang.
Paradigma merupakan scara pandang yang mendasar dari seseorang.
Paradigma Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah sebuah sudut
pandang PMII dalam menentukan arah dan gerakan dalam melaksanakan aktivitas
organisasinya. Paradigma tidak hanya membicarakan apa yang harus dipandang,
tetapi juga memberikan sebuah inspirasi, imaginasi terhadap apa yang harus
dilakukan. Sehingga hal ini membuat perbedaan antara satu dengan yang lainnya[1].
Organisasi PMII selama ini belum memiliki paradigma yang secara
definitive menjadi acuan gerakan. Cara pandang dan bersikap warga pergerakan
selama ini mengacu pada nilai dasar pergerakan (NDP). Karena tidak mengacu pada
kerangka paradigmatik yang baku, upaya merumuskan dan membnagun kerangka nilai
yang dapat diukur secara sistematis dan baku, sehingga warga pergerakan sering
dihadapkan pada berbagai penafsiran atas nilai-nilai yang menjadi acuan yang
akhirnya berujung pada terjadinya keberagaman cara pandang dan tafsir atas
nilai tersebut..
Paradigma ini pemikiran seseorang dapat dikenali dalam melihat dan
melakukan analisis terhadap suatu motif atau masalah. Dengan kata lain,
paradigma merupakan cara dalam “mendekati”obyek kajianya yang ada dalam ilmu
pengetahuan. Orientasi atau pendekatan umum ini didasarkan pada asumsiasumsi
yang dibangun dalam kaitan dengan bagaimana “realitas” dilihat. Perbedaan
paradigma yang digunakan oleh seseorang dalam memandang suatu masalah, akan
berakibat pada timbulnya perbedaan dalam menyusun teori, membuat konstruk
pemikiran, cara pandang, sampai pada aksi dan solusi yang diambil. Pilihan
Paradigma PMII disamping terdapat banyak pengertian mengenai paradigma, dalam
ilmu sosial ada berbagai macam jenis paradigma.
Dalam paradigma pergerakan, diharapkan agar tidak terjadi pemisahan
yang tajam antara gerakan jalanan dan gerakan pemikiran di dalam PMII. Gerakan
jalanan lebih fokus pada aksi nyata dengan tujuan mempercepat transformasi
sosial, sementara gerakan pemikiran melibatkan eksplorasi teoritis, kajian,
diskusi, dan pertemuan ilmiah lainnya, termasuk memberikan kontribusi
konseptual kepada pemegang kebijakan. Perbedaan antara kedua model tersebut
tidak hanya terlihat dalam praktik gerakan, tetapi juga dalam fokus dan area
kerja. Apa yang dianggap penting oleh gerakan jalanan mungkin tidak dianggap
sama pentingnya oleh gerakan pemikiran, dan sebaliknya, meskipun keduanya
sebenarnya saling terkait.
Dalam sejarahnya, gerakan mahasiswa seringkali dipengaruhi oleh
perdebatan antara model jalanan dan intelektual. Hal yang sama terjadi dalam
sejarah gerakan PMII, di mana pertentangan antara pendekatan politik-struktural
dan intelektual-struktural atau intelektual-kultural sering muncul. Seharusnya,
kedua model ini tidak perlu dipertentangkan, karena hal itu bisa melemahkan
gerakan PMII secara keseluruhan. Penting untuk mencari prinsip dasar yang dapat
menjadi panduan bagi semua model gerakan, sehingga meskipun terdapat pluralitas
dalam strategi dan model gerakan, hal itu tidak menjadi kendala. Bahkan, secara
sinergis, kedua model tersebut dapat saling menguatkan dan mendukung satu sama
lain. Intinya, paradigma ini mengedepankan pertanggungjawaban dalam setiap
pendekatan yang diambil, yang harus sesuai dengan konteks lokal dan
kecenderungan masing-masing.
B.
Rumusan Paradigma PMII dari Masa ke-Masa
Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran PMII mulai mengatur arah gerakan secara teoritis, struktural dan sistematis sejak periode pengurusan sahabat Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum PB PMII (1994-1997). Paradigma ini ada karena restrukturisasi yang dilakukan orde baru sudah menciptakan pola politik baru, yang mana kebanyakan tidak berbeda jauh dengan beberapa negara kapitalis pinggiran (peripheral capitalist state) di sejumlah negara Amerika Latin dan Asia. Bagian terpenting dari paradigma PMII ini ialah rekayasa sosial, yaitu dengan beragam advokasi, selanjutnya memobilisasi massa untuk menciptakan suatu pergerakan yang diawali dari paling bawah lalu dikerucutkan ke atas untuk mengambil puncak kekuasaan negara di jaman orde baru, yang pada waktu itu dipegang oleh Presiden ke dua RI Soeharto.
Paradigma gerakan PMII pertama kali yaitu Paradigma Arus balik
Masyarakat Pinggiran pada masa Ketum PB Sahabat Muhaimin Iskandar. Hal ini
dirasa mampu menjawab kegelisahan anggota PMII yang gerah dengan situasi
sosial-politik Nasional. Dalam paradigma tersebut dijelaskan tentang rekayasa
sosial (REKSOS) yang dibagi menjadi 2 pola yaitu Pasar Bebas Ide dan Advokasi
(Bentuk gerakannya: sosialisasi wacana, penyadaran dan pendampingan)
Paradigma PMII Kritis Transformatif Pada masa (1997-2000)
sahabat Saiful Bahri Anshari sebagai ketua umum PB PMII kesepuluh, mengenalkan
sebuah paradigma PMII baru yang menggantikan paradigma arus balik masyarakat
pinggiran, yakni Paradigma Kritis Transformatif. Beberapa prinsip dasar
paradigma ini pada hakekatnya hampir sama dengan paradigma arus balik. Hanya
saja lebih menitik beratkan pada teori-teori kritis cendekiawan muslim dan
dikombinasikan dengan pemikiran Filosofis Madzab Frankfurt. Beberapa argumen
yang mencakup lahirnya paradigma kritis transformatif ialah : Terbelenggunya
masyarakat Indonesia dengan budaya kapitalisme yang condong menghancurkan
tatanan nilai kultural, perbuatan pemerintahan yang condong represif dan
otoriter dengan skema hegemonik dan kuatnya belenggu dogmatisme agama, yang
akibatnya agama menjadi kering dan beku, bahkan juga sering agama justru
menjadi penghambat untuk perkembangan dan upaya penegakan nilai kemanusiaan.
Paradigma PMII ktitis transformatif berjalan ketika KH. Abdurrahman
Wahid yang akrab disapa Gus Dur dipilih sebagai presiden keempat RI (1999).
Para aktivis PMII dan aktivis civil society mengalami kebingungan saat Gus Dur
sebagai figur dan lambang perjuangan civil society Indonesia naik ke puncak
kekuasaan. Aktivis pro-demokrasi mengalami kebingungan, antara mendampingi Gus
Dur dari lajur ekstra-parlementer, atau berlaku sama dengan presiden-presiden
awalnya. Mendampingi atau memberikan dukungan dilandasi pada realita bahwa
masih ada banyak beberapa unsur atau beberapa tokoh dari orde baru yang
memusuhi presiden keempat ini..
Sebagaimana dijelaskan di atas, Pertama, pandangan dunia dasar
terlihat untuk menjaga ketenangan manusia dari berbagai belenggu yang dibawa
oleh siklus sosial. Kedua, pandangan dunia dasar terhadap segala jenis
penguasaan dan penganiayaan. Ketiga, pandangan dunia dasar membuka selubung
informasi yang menyesatkan dan higemonik. Keseluruhan ini merupakan jiwa yang
dikandung oleh Islam, sehingga perspektif-perspektif tersebut dapat diakui
sebagai tahap awal dari pandangan dunia yang mendasar di kalangan warga PMII.(Fajarudin, 2021)
Paradigma Menggiring Arus Berbasis Realitas Ketua umum PB
PMII ke-13 (2006-2008), sahabat Heri Harianto Azumi, membuat suatu gebrakan
baru, yakni paradigma menggiring arus berbasis realitas, pola ini masih kental
dengan nuansa perlawanan frontal, baik pada negara atau pada kemampuan
kapitalis internasional. Hingga ruang taktis-strategis dalam kerangka harapan
pergerakan yang berorientasikan jangka panjang malah tidak mendapat tempat. Pada
zaman ini para kader PMII masih gampang terjerat dalam masalah
temporal-spasial, sehingga perubahan internasional yang paling punya pengaruh
pada arah perubahan Indonesia sendiri susah dibaca. Dengan energi yang belum
seberapa, aktivis PMII kerap terlarut dalam angan-angan membendung dominasi
negara dan ekspansi Neoliberal sekarang ini juga. Periode ini ialah periode di
mana PMII sedikit susah juga dalam memastikan arah, apa lagi pada zaman ini
yang kita lewati adalah perkembangan Globalisasi dan Tehnologi yang sudah
membuat pergerakan Neoliberalisme lumayan besar, PMII mesti dapat memahami ini,
kalau negara sekarang sedang pada kondisi yang cukup mencemaskan. [2]
Paradigma Kritis Transformatif Produktif Sebagai Modal PMII M.
Abdullah Syukri Ketua Umum PB PMII (2021-2023) ketika memberikan sambutan
hangat pada Harlah PMII ke-61 menyampaikan bahwa beliau sedang menyusun sebuah
paradigma baru sebagai bagian dari paradigma PMII kritis transformatif yang
disesuaikan dengan keadaan saat ini, yaitu paradigma produktif. Beliau
memandang bahwa diskursus paradigmatik mengalami kebuntuan mengingat beberapa
tahun belakangan PMII kerap gugup dalam menghadapi revolusi industri 4.0,
kemajuan daerah perkotaan, kaum kelas ekonomi menengah, dsb. Pada dasarnya,
paradigma produktif ini merupakan implementasi salah satu jargon PMII, yakni
amal shaleh. Hal ini dibutuhkan mengingat diskusi di berbagai tingkatan selama
berjam-jam tidak melahirkan sebuah produk atau karya baru. Padahal, di zaman
sekarang ini, satu orang dianggap keberadaannya karena mempunyai beberapa karya
yang memiliki ciri-ciri unik dan tidak sama dari lainnya. Di akhir sambutan, M.
Abdullah Syukri meminta supaya sahabat-sahabati baik dari tingkat rayon,
komisariat, hingga cabang mengkritisi dan mengembangkan kerangka paradigmatik
tersebut.[3]
C.
Internalisasi dan implementasi paradigma pergerakan dalam kehidupan
sehari hari
Orientasi gerakan mahasiswa harus mengalami perubahan dari
paradigma lama ke paradigma baru yang lebih mencerahkan. Pengkaderan menjadi
krusial untuk mempersiapkan pemimpin masa depan bangsa. Oleh karena itu, PMII
perlu melakukan manifestasi pengaderan menuju masa depan yang lebih cerah.
Perubahan ini memerlukan transisi dari paradigma normatif ke paradigma
transformatif, yang bertujuan untuk mengubah perilaku dan mendorong pemikiran
dari sektarianisme menuju pluralisme. Pentingnya untuk mereview kurikulum
pengaderan secara berkala, idealnya setiap periode kepengurusan, agar sesuai
dengan perkembangan situasi dan kondisi. Mengingat PMII sebagai organisasi
kemahasiswaan dengan identitas keislaman dan keindonesiaan, penjabaran arah
keislaman dan keindonesiaan ini menjadi sangat krusial.
Melihat realitas yang ada di fakultas adab & Humaniora dan
sesuai dengan tuntutan keadaan PMII baik secara sosiologis, politis dan
antropologis maka memilih paradigma kritis-transformatif sebagai pijakan
gerakan organisasi. Dari perspektif keislaman, penting untuk dicatat bahwa
identitas keislaman PMII tidak bersifat transnasional, melainkan lebih berakar
pada konsep negara bangsa. Pendekatan pemikiran keislamannya tidak bersifat
skripturalis-fundamentalis atau ekstrem, tetapi lebih inklusif dan pluralistik.
Oleh karena itu, PMII diharapkan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara yang defenitif. Prinsip-prinsip seperti
tawasuth, tawazun, dan tasamuh harus menjadi landasan berpikir dalam
organisasi. Dengan demikian, PMII diharapkan tidak melibatkan diri dalam
ekstremisme, baik itu dari spektrum kiri maupun kanan. Cara berpikir seperti
ini harus terus diperhatikan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari
menjaga warisan perjuangan para pendiri negara ini.
Lewat paradigma kritis transformative produktif di PMII Rayon Adab berupaya
menegakkan sikap kritis dalam berkehidupan dengan menjadikan ajaran agama
sebagai inspirasi yang hidup dan dinamis. Sebagaimana dijelaskan di atas,
pertama, paradigma krirtis berupaya menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan
dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat
profan. Kedua, paradigma kritis melawan
segala bentuk dominasi dan penindasan. Ketiga, paradigma kritis membuka tabir
dan selubung pengetahuan yang munafik dan hegemonic. Semua ini adalah semangat
yang dikandung oleh Islam. Oleh karenanya, pokok-pokok pikiran inilah yang
dapat diterima sebagai titik pijak paradigma kritis di kalangan warga PMII. (Islam, 2013)
Dalam perspektif transformatif diianut epistemologi perubahan non
esensialis. Perubahan yang tidak hanya menumpukkan pada revolusi politik atau
perubahan yang bertumpu pada agen tunggal sejarah: entah kaum miskin kota,
buruh, atau petani, tapi perubahan yang serentak dilakukan secara bersama-sama.
Disisi lain makan transformatif harus mampu mentransformasikan gagasasn dan
gerakan samapi pada wilayah tindakan praksis ke masyarakat. Model-model
transformasi yang bisa dimanifestasikan pada tataran praksis antara lain:
1.
Transformasi
dari elitisme ke populisme
Dalam model transformasi ini
digunakan model pendekatan, bahwa mahasiswa dalam melakukan gerakan sosial harus
disiplin dan konsisten mengangkat isu-isu kerakyatan, semisal isu advokasi mahasiswa
, pendampingan terhadap mahasiswa yang merasakan
keresahan akibat adanya kebijakan akademik yang sering berselingkuh dengan kekuatan atau
hanya dengan petingi kampus, yang kesemuanya itu menyentuh akan kebutuhan mahasiswa
secara riil. Oleh karena itu, kita sebagai kaum terpelajar jangan sampai
tercerabut dari akar sejarah kita sendiri. Karakter gerakan mahasiswa saat ini
haruslah lebih condong pada gerakan yang bersifat horizontal.
2.
Transformasi
dai Struktur ke Kultur
Bentuk transformasi selanjutnya adalah transformasi dari struktur ke kultur, yang mana hal ini akan bisa terwujud jika dalam setiap mengambil keputusan berupa kebijakan-kebijakan ini tidak sepenuhnya bersifat sentralistik seperti yang dialakuakan pada saat ini atas kebijkan yang biasanya dikeluarkan oleh UINSA, akan tetapi seharusnya kebijakan ini bersifat desentralistik. Jadi, aspirasi dari bawah harus dijadikan bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan, hal ini karena Mahasiswalah yang paling mengerti akan kebutuhan, dan yang paling bersinggungan langsung dengan kerasnya benturan sosial di lapangan.
3.
Transformasi
dari Individu ke Massa
Model transformasi selanjutnya
adalah transformasi dari individu ke massa. Dalam disiplin ilmu sosiologi
disebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang sangat membutuhkan
kehadiran makhluk yang lain. Bentuk-bentuk komunalitas ini sebenarnya sudah
dicita-citaakn oleh para faundhing fathers kita tentang adanya hidup bergotong
royong. Rasa egoisme dan individualisme haruslah dibuang jauh-jauh dari sifat
manusia, salah satu jargon yang pernah dikatakan oleh Tan Malaka (Sang
Nasionalis Kiri), adalah adanya aksi massa. Hal ini tentunya setiap perubahan
meniscayakan adanya power atau kekuatan rakyat dalam menyatukan program
perjuangan menuju perubahan sosial dalam bidang apapun
Dalam konteks produktif PMII Rayon
Adab & Humaniora Agar meningkatkan kreativitas dan produktivitas, mahasiswa
perlu adanya suatu pemicu yang berguna untuk menambah semangat mereka dalam
berkreasi. Di pihak internal, perlu memberikan suatu wadah untuk bisa menampung
berbagai produk karya mahasiswa guna diperjual belikan.(Setyawati, n.d.) dengan cara rencana ada Lembanga Semi Otonom PMII Rayon Adab yangmenangunginya,
karena mereka kesulitan dalam hal memasarkan produkproduk yang telah
dibuatnya. Tujuan dibuatkan wadah ini agar mahasiswa terpacu semangatnya untuk
berkreasi sehingga bisa menumbuhkan sifat kemandirian. Di pihak eksternal,
dalam hal ini ORMAWA melalui bidang-bidangnya terkait yang sering melakukan
pelatihan keterampilan. Perlu adanya program pelatihan bagi mahasiswa, karena
mahasiswa salah satu tumpuan ORMAWA guna mengurangi angka pengangguran. Mereka
bisa mengasah dan mengembangkan keterampilannya untuk dapat membuka lapangan
pekerjaan.
D.
Daftar Pustaka
Fajarudin, A. A. (2021). Asimilasi Paradigma PMII Syarifuddin
dengan Kultur Pesantren. Risalatuna: Journal of Pesantren Studies, 1(2),
215. https://doi.org/10.54471/rjps.v1i2.1252
Islam, T. P. (2013). ANALISIS WACANA MEDIA , ANALISIS
SOSIAL , Daftar isi. 1–70.
Mukhlishin, A., & Suhendri, A. (2017). Aplikasi Teori
Sosiologi Dalam Pengembangan Masyarakat Islam. INJECT (Interdisciplinary
Journal of Communication), 2(2), 211.
https://doi.org/10.18326/inject.v2i2.211-234
Setyawati, E. (n.d.). PADA MATAKULIAH KEWIRAUSAHAAN (
Studi Kasus Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan ). 1586–1594.
Sonjoruri, O. :, & Trisakti, B. (2008). Thomas Kuhn Dan
Tradisi-Inovasi Dalam Langkah Metodologis Riset Ilmiah. Jurnal Filsafat,
18(3), 223–239.
Susanto, H. (2017). Konsep Paradigma Ilmu-Ilmu Sosial Dan
Relevansinya Bagi Perkembangan Pengetahuan. Muaddib, 04(02),
93–114.
[1]
Akhmad Afnan Fajarudin, “Asimilasi Paradigma PMII Syarifuddin dengan Kultur
Pesantren”, Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang, Indonesia, 2021.
[2] “
Paradigma PMII : Kerangka Berfikir PMII dari masa kemasa https://www.edukasionalis.my.id/2021/09/paradigma-pmii.html
diakses pada 27 Februari 2024
[3] “Paradigma
Produktif Modal PMII Hadapi Tantangan Kemajuan Zaman”, https://nu.or.id/nasional/paradigma-produktif-modal-pmii-hadapi-tantangan-kemajuan-zaman-B9bKf
diakses pada 27 Februari 2024
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar