- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Homo homini lupus berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti "Manusia adalah serigala bagi sesamanya." Ungkapan ini pertama kali dicetuskan oleh filsuf Romawi, Plautus, dalam drama Asinaria pada abad ke-2 SM, dan kemudian diperkenalkan lebih luas oleh filsuf Inggris Thomas Hobbes dalam karyanya Leviathan pada abad ke-17. Makna dari ungkapan ini menggambarkan pandangan pesimis tentang sifat manusia, yaitu bahwa manusia cenderung menjadi ancaman bagi sesama manusia, terutama ketika tidak ada kekuasaan yang kuat untuk mengatur mereka. Dalam konteks ini, "serigala" melambangkan sifat buas, egois, dan cenderung mengabaikan kepentingan orang lain demi keuntungan pribadi.
Narasi dalam Konteks "Homo Homini Lupus": Di sebuah masyarakat kuno yang terisolasi, hidup seorang pemuda bernama Marcus. Masyarakat tersebut dulu hidup rukun, berbagi hasil bumi, dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, ketegangan antarindividu semakin meningkat. Orang-orang mulai merasa takut akan kelangkaan sumber daya, terutama setelah musim panen yang buruk. Marcus, yang tadinya percaya pada kebaikan dan solidaritas sesama, mulai menyaksikan perubahan yang mencolok di masyarakatnya. Teman-temannya yang dulu bersahabat kini saling mencurigai dan berkompetisi untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang lebih baik. Bahkan, orang-orang yang dahulu mengajari Marcus tentang nilai kebersamaan kini berusaha memanipulasi satu sama lain demi keuntungan pribadi.
Suatu hari, ketika Marcus berjalan melewati pasar, ia menyaksikan sekelompok orang memperebutkan persediaan gandum yang terbatas. Kerumunan itu berteriak dan saling dorong, bahkan ada yang saling pukul untuk mendapatkan bagian lebih banyak. Marcus merasa ngeri dan bingung. Ia tidak lagi mengenali dunia tempat ia tumbuh. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: Apakah inilah hakikat manusia?
Pikirannya melayang pada ajaran yang pernah didengarnya, sebuah kutipan dari seorang bijak kuno. Homo homini lupus Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Ini bukanlah ungkapan yang memuji, melainkan peringatan bahwa dalam kondisi tertentu, manusia bisa menjadi sangat kejam dan egois. Tanpa aturan yang tegas dan saling menjaga, mereka dapat merusak satu sama lain demi kepentingan diri sendiri. Marcus mulai menyadari bahwa meskipun manusia memiliki potensi untuk kebaikan, ketakutan, keserakahan, dan kekurangan moralitas sering kali mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia pun mulai merenung, apakah mungkin ada jalan untuk membalikkan keadaan ini, atau akankah mereka semua terjerumus lebih dalam ke dalam "hutan" yang penuh dengan serigala sesama manusia? Ungkapan "Homo homini lupus" mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang konflik dan ketegangan dalam masyarakat kita. Ia mengingatkan kita bahwa tanpa empati, keadilan, dan pengawasan sosial yang kuat, manusia bisa dengan mudah terjerumus dalam perilaku yang merugikan sesama.
Di dunia yang serba cepat dan kompetitif ini, peribahasa "Homo homini lupus" mengingatkan kita akan potensi gelap dalam diri manusia, terutama dalam konteks persaingan dan ambisi yang tak terkendali. Di dunia modern yang penuh dengan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, ungkapan ini menggambarkan bagaimana seseorang, dalam keadaan tertentu, bisa menjadi "serigala" bagi sesamanya. Dalam beberapa situasi, manusia bertindak kejam dan egois demi keuntungan pribadi, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap orang lain.
Seorang pejabat tinggi, yang awalnya dipercaya untuk memperbaiki negara, malah menggunakan kekuasaannya untuk meraup keuntungan pribadi. Dengan menerima suap dan mengalihkan anggaran pembangunan untuk keuntungan pribadi, ia mengorbankan kepentingan rakyat. Rakyat tetap miskin dan terlantar, sementara pejabat terus menumpuk kekayaan.Di dunia maya, platform media sosial mengumpulkan data pribadi pengguna dan menggunakannya untuk iklan yang menguntungkan perusahaan besar. Lebih buruk lagi, data ini juga digunakan untuk menyebarkan disinformasi, memanipulasi opini publik, dan mempengaruhi pemilu. Pengguna tidak sadar bahwa mereka telah menjadi "produk" yang dimanfaatkan demi keuntungan finansial.
Homo homini lupus mencerminkan bagaimana keserakahan dan egoisme manusia bisa merugikan sesama. Dari eksploitasi pekerja hingga manipulasi di dunia digital, manusia sering bertindak seperti "serigala" yang memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Namun, ungkapan ini juga bisa menjadi pelajaran penting untuk kita agar tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan empati, terutama dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks. Kita harus ingat bahwa perubahan dimulai dari kesadaran untuk memperlakukan sesama dengan lebih adil dan manusiawi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar